Sayang Keluarga

Cinptakan Surga dalam Rumah Tangga

Jumat, 31 Agustus 2007

Tolak Ukur Kesempurnaan Iman

Rasulullah saw. bersabda,

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ

"Tidaklah sempurna iman orang yang tidak dapat menjaga amanah."


Sungguh hadits ini merupakan hadits yang amat berat, dan hampir semua hadits Rasulullah saw. yang berkenaan dengan amanah amat berat ... amat kuat (pesan yang beliau sampaikan) ... sungguh kita harus memperhatikannya. Apa arti dari kalimat, "Lâ îmâna?" Maksudnya adalah tidak adanya kesempurnaan iman. Siapa yang berkhianat, berarti imannya belum sempurna, meskipun shalatnya khusu' bahkan meskipun ia telah melakukan Haji sekalipun. Selama ia masih (suka) berkhianat, imannya belum sempurna.
baca selanjutnya
"Tidaklah sempurna orang yang tidak dapat menjaga amanah, dan tidaklah sempurna agama orang yang tidak dapat menjaga janji."HR Ahmad [3/135 dan 3/210]


Sungguh kalimat tersebut merupakan kalimat yang dapat membangkitkan hati dari kelalaiannya. Nah, apakah Anda sudah membangunkan hati Anda dari kelalaiannya?!
Rasulullah saw. bersabda,


"Berikanlah amanah kepada orang yang engkau percayai dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu."HR Abu Daud [3534], Tirmidzi [1264] dan Imam Ahmad [3/414]


Sesungguhnya amanah tidak dapat dipecah-pecah, bahkan terhadap orang telah berkhianat kepada Anda sekalipaun, Anda tidak boleh mengkhianatinya.. Misalnya, jika ada seorang karyawan yang berhutang kepada perusahaannya sebesar 100 Ribu Rupiah dalam jangka waktu tertentu. Lantas ada seseorang yang menitipkan uang sebesar 100 Ribu Rupiah kepada perusahaan agar diberikan kepada orang yang berhutang pada perusahaan. Nah, dari pihak perusahaan tidak diperbolehkan mengambil 30 Ribu Rupiah sementara yang 70 Ribu Rupiah diserahkan kepada karyawaannya yang mempunyai hutang pada perusahaan. Tapi yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah hendaknya ia menyerahkan semuanya tanpa dikurangi sepeserpun, lantas dari pihak perusahaan baru meminta kepada yang bersangkutan agar melunasi hutang-hutangnya pada perusahaan.


Lihatlah Rasulullah saw. pada saat Hijrah. Beliau mengembalikan barang titipan yang dititipkan oleh penduduk Mekah, meskipun mereka telah merampas harta benda kaum muslimin. Dan beliau tidak mengatakan, ini sebagai ganti dari itu...


Sungguh, amanah tidak dapat di artikan secara parsial. Ia memiliki makna yang amat penting dan perlu dipahami secara mendalam. Jika ada seseorang yang menitipkan barangnya kepada Anda, dan Anda sendiri mengetahui bahwa orang tersebut sering berkhianat, maka Anda tidak diperbolehkan melakukan hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan. "Berikanlah amanah kepada orang yang engkau percayai dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu."
Rasulullah saw. bersabda, "Ada empat hal, yang jika berada pada dirimu, maka apa yang tidak engkau miliki jangan sampai merisaukanmu: menjaga amanah, jujur dalam ucapan, akhlak yang baik, dan lapang dada saat musibah menimpa."


Siapapun orang yang memiliki empat hal di atas, pada hakikatnya ia telah memiliki dunia se-isinya. Maka janganlah bersedih atas apa yang tidak ada di sampingnya. Begitu halnya Anda, jangan terlalu risau jika Anda tidak memiliki harta benda, jabatan, pangkat atau ...
Saya melihat Anda mulai berusaha untuk menjaga empat hal di atas. Mari kita menjadi orang yang dapat dipercaya, hidup dengan akhlak yang mulia, dan berlapang dada saat musibah menimpa, lalu ucapkan selamat tinggal wahai kegelisahan dan kesedihan.

Saat Rasulullah saw. memberikan khutbah Haji Wada', di penghujung khutbahnya, beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, jika salah seorang di antara kalian diberi amanah, hendaknya ia mengembalikannya kepada orang yang memberinya amanah." Lantas Rasulullah saw. membuka tangan beliau, lalu melanjutkan, "Saksikanlah aku telah menyampaikan ... Saksikanlah aku telah menyampaikan ... Saksikanlah aku telah menyampaikan. Dan hendaknya orang yang hadir saat ini menyampaikannya kepada orang yang berhalangan hadir. Berapa banyak orang yang menyampaikan lebih beruntung dari orang yang mendengar."


Saudaraku yang saya cintai, Rasulullah saw. telah berpesan kepada Anda. Maka, ingatlah selalu amanah yang ada dalam rumah Anda... ingatlah barang yang dititipkan seseorang kepada kita dan sampai sekarang belum juga kita kembalikan. Saya harap, setelah membaca kalimat ini, Anda akan bangkit dan mengambil secarik kertas lalu menulis semua amanah yang dipercayakan kepada Anda, baik sesuatu yang kecil maupun yang besar. Apakah Anda akan melakukannya?! Insya Allah.
Mari kita sampaikan amanah yang diberikan Rasulullah saw.; kita sampaikan apa yang kita pelajari kepada orang lain, karena umur yang kita miliki amatlah pendek.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda