Sayang Keluarga

Cinptakan Surga dalam Rumah Tangga

Rabu, 19 September 2007

Fikih Memilih Psangan Hidup

Memilih dengan baik adalah awal kebahagiaan
Di antara prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Islam dalam membangun rumah tangga yang kuat dan bersatu padu adalah masing-masing pihak, calon suami maupun calon istri, pandai dalam memilih pasangan hidupnya.
“Menurut kacamata Islam, pernikahan bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga merupakan persoalan sosial yang paling besar.
Maka segala hal yang ditimbulkan oleh kesalahan dalam memilih, baik yang sifatnya perpecahan antara suami dan istri, broken home dan semacamnya, dampaknya bukan hanya kembali kepada pasangan suami istri, tetapi akan melebar dan merambat ke seluruh masyarakat. Dan penyakit-penyakit sosial yang ditimbulkan akibat perceraian tersebut, pun akan kembali kepada masyarakat; bukankah masyarakat itu terdiri dari beberapa keluarga.”

Pentingnya Memilih Pasangan dengan Baik
Dari Aisyah rah, ia berkata, Rasululah saw telah bersabda, “Pilihlah yang terbaik untuk nutfah-nutfah kalian, menikahlah dengan yang mampu, dan nikahkanlah anak-anak kalian dengan mereka (yang mampu).”
Dalam sebuah penjelasan mengenai hadits tersebut diungkapkan, “Janganlah meletakkan nutfah-nutfah kalian kecuali pada keturunan yang suci. Jauhkanlah nutfah-nutfah kalian dari orang-orang kotor dan fasik. Dengan kata lain: Pilihlah untuk anak-anak kalian ibu yang saleh dengan menikahi wanita salehah pula, yang kelak menjadi ibu bagi anak-anak kalian.”

Cara Memilih Pasangan dengan Baik
Adapun prinsip-prinsip memilih pasangan dengan baik, terungkap dengan singkat dalam nasihat Rasulullah saw. kepada para pemuda. Dari Abu hurairah ra, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat hal. Yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Raihlah kemenangan dengan menikahi perempuan yang beragama, niscaya kedua tanganmu melakat erat dengan tanah.”
Maksudnya, ia tidak akan pernah menyesal dengan mengedepankan agamasebgai tolakukur dalampemilihannya.
Rasulullah saw. juga menasihatkan kepada para wali gadis, selanjutnya kepada para gadis itu sendiri, “Jika kalian didatangi oleh laki-laki yang kalian ridha akan agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi ini serta kerusakan yang luas.”
Siapapun yang memperhatikan kedua hadits tersebut, ia akan menemukan bahwa pada kedua hadits tersebut terdapat beberapa kriteria dasar dalam memilih pasangan, yang dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu: Agama dan Dapa diterima.

Jumat, 31 Agustus 2007

Tolak Ukur Kesempurnaan Iman

Rasulullah saw. bersabda,

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ

"Tidaklah sempurna iman orang yang tidak dapat menjaga amanah."


Sungguh hadits ini merupakan hadits yang amat berat, dan hampir semua hadits Rasulullah saw. yang berkenaan dengan amanah amat berat ... amat kuat (pesan yang beliau sampaikan) ... sungguh kita harus memperhatikannya. Apa arti dari kalimat, "Lâ îmâna?" Maksudnya adalah tidak adanya kesempurnaan iman. Siapa yang berkhianat, berarti imannya belum sempurna, meskipun shalatnya khusu' bahkan meskipun ia telah melakukan Haji sekalipun. Selama ia masih (suka) berkhianat, imannya belum sempurna.
baca selanjutnya
"Tidaklah sempurna orang yang tidak dapat menjaga amanah, dan tidaklah sempurna agama orang yang tidak dapat menjaga janji."HR Ahmad [3/135 dan 3/210]


Sungguh kalimat tersebut merupakan kalimat yang dapat membangkitkan hati dari kelalaiannya. Nah, apakah Anda sudah membangunkan hati Anda dari kelalaiannya?!
Rasulullah saw. bersabda,


"Berikanlah amanah kepada orang yang engkau percayai dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu."HR Abu Daud [3534], Tirmidzi [1264] dan Imam Ahmad [3/414]


Sesungguhnya amanah tidak dapat dipecah-pecah, bahkan terhadap orang telah berkhianat kepada Anda sekalipaun, Anda tidak boleh mengkhianatinya.. Misalnya, jika ada seorang karyawan yang berhutang kepada perusahaannya sebesar 100 Ribu Rupiah dalam jangka waktu tertentu. Lantas ada seseorang yang menitipkan uang sebesar 100 Ribu Rupiah kepada perusahaan agar diberikan kepada orang yang berhutang pada perusahaan. Nah, dari pihak perusahaan tidak diperbolehkan mengambil 30 Ribu Rupiah sementara yang 70 Ribu Rupiah diserahkan kepada karyawaannya yang mempunyai hutang pada perusahaan. Tapi yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah hendaknya ia menyerahkan semuanya tanpa dikurangi sepeserpun, lantas dari pihak perusahaan baru meminta kepada yang bersangkutan agar melunasi hutang-hutangnya pada perusahaan.


Lihatlah Rasulullah saw. pada saat Hijrah. Beliau mengembalikan barang titipan yang dititipkan oleh penduduk Mekah, meskipun mereka telah merampas harta benda kaum muslimin. Dan beliau tidak mengatakan, ini sebagai ganti dari itu...


Sungguh, amanah tidak dapat di artikan secara parsial. Ia memiliki makna yang amat penting dan perlu dipahami secara mendalam. Jika ada seseorang yang menitipkan barangnya kepada Anda, dan Anda sendiri mengetahui bahwa orang tersebut sering berkhianat, maka Anda tidak diperbolehkan melakukan hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan. "Berikanlah amanah kepada orang yang engkau percayai dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu."
Rasulullah saw. bersabda, "Ada empat hal, yang jika berada pada dirimu, maka apa yang tidak engkau miliki jangan sampai merisaukanmu: menjaga amanah, jujur dalam ucapan, akhlak yang baik, dan lapang dada saat musibah menimpa."


Siapapun orang yang memiliki empat hal di atas, pada hakikatnya ia telah memiliki dunia se-isinya. Maka janganlah bersedih atas apa yang tidak ada di sampingnya. Begitu halnya Anda, jangan terlalu risau jika Anda tidak memiliki harta benda, jabatan, pangkat atau ...
Saya melihat Anda mulai berusaha untuk menjaga empat hal di atas. Mari kita menjadi orang yang dapat dipercaya, hidup dengan akhlak yang mulia, dan berlapang dada saat musibah menimpa, lalu ucapkan selamat tinggal wahai kegelisahan dan kesedihan.

Saat Rasulullah saw. memberikan khutbah Haji Wada', di penghujung khutbahnya, beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, jika salah seorang di antara kalian diberi amanah, hendaknya ia mengembalikannya kepada orang yang memberinya amanah." Lantas Rasulullah saw. membuka tangan beliau, lalu melanjutkan, "Saksikanlah aku telah menyampaikan ... Saksikanlah aku telah menyampaikan ... Saksikanlah aku telah menyampaikan. Dan hendaknya orang yang hadir saat ini menyampaikannya kepada orang yang berhalangan hadir. Berapa banyak orang yang menyampaikan lebih beruntung dari orang yang mendengar."


Saudaraku yang saya cintai, Rasulullah saw. telah berpesan kepada Anda. Maka, ingatlah selalu amanah yang ada dalam rumah Anda... ingatlah barang yang dititipkan seseorang kepada kita dan sampai sekarang belum juga kita kembalikan. Saya harap, setelah membaca kalimat ini, Anda akan bangkit dan mengambil secarik kertas lalu menulis semua amanah yang dipercayakan kepada Anda, baik sesuatu yang kecil maupun yang besar. Apakah Anda akan melakukannya?! Insya Allah.
Mari kita sampaikan amanah yang diberikan Rasulullah saw.; kita sampaikan apa yang kita pelajari kepada orang lain, karena umur yang kita miliki amatlah pendek.